βοΈ Miliki Bukunya Sekarang & Perkaya Wawasan Keislaman! β¨
Ingin memahami Islam secara lebih mendalam berdasarkan pemikiran Persatuan Islam (Persis)? Buku-buku Persis menghadirkan kajian Islam yang ilmiah, tajam, dan berlandaskan Al-Qur’an serta Sunnah yang shahih.
βοΈ Kenapa Harus Punya Buku dari PersisPers ?
β
Memperkuat akidah dan pemahaman Islam yang murni
β
Menambah wawasan tentang tajdid (pembaruan) dalam Islam
β
Sumber rujukan terpercaya dalam memahami ajaran Islam secara kaffah
βοΈ Jangan lewatkan kesempatan untuk menambah ilmu dan memperdalam pemahaman Islam yang benar! Pesan sekarang dan jadilah bagian dari umat yang cerdas dan berpegang teguh pada Al-Qur`an dan Sunnah!
βοΈPesan sekarang sebelum kehabisan! ?β¨
EPILOG
Dari Persatuan Islam ke Persatuan Indonesia; Menanti Kader Ummat yang Negarawan
Sejarawan muslim, (Allahu yarham) Kuntowijoyo, menulis artikel berjudul, “Tjokroaminoto, Natsir, dan Habibie: Tiga Tonggak Sejarah Umat”. Tiga tokoh ini adalah mewakili tiga zaman dalam sejarah keumatan di Indonesia. HOS Tjokroaminoto mewakili umat sebagai wong cilik, Natsir mewakili umat sebagai warga negara, sedangkan Habibie mewakili umat sebgai warga dunia. Kesadaran sejarah umat diwarnai adanya organisasi yang satu, pimpinan tunggal, dan mobilisasi; warisan SI itu menjadi model dari gerakan Islam yang diinginkan.
Dalam sejarah Islam modern di Indonesia, ketiga tokoh diatas tampil sebagai lokomotif utama di maisng-masing periode. Periode Kolonial, saat kedudukan umatnya sebagai wong cilik dan basis sosialnya mengandalkan massa, Tjokro menjadi tokoh sentralnya lewat organisasi Islam bernama Sarikat Islam (SI). Periode Nasional, kedudukan umat naik level dari sebagai wong cilik menjadi warga negara dengan basis sosialnya mengandalkan santri, Natsir menjadi tokoh sentralnya lewat organisasi politik Islam bernama Masyumi (Majlis Syuro Musimin Indonesia). Sedang di periode ketiga, disebut dengan periode global. Kedudukan umat naik level lagi dari sebagai warga negara menjadi warga dunia dengan basis sosial mengandalkan kelas menengah. Di periode ini tampil sosok yang tidak begitu lama mengalami pahit getir bersama umat, yaitu Habibie atau Baharudin Jusuf Habibie, dia menjadi tokoh sentral lewat organisasi Islam bernama ICMI (Ikatan Cndikiawan Musim Indonesia).
ICMI tidak bisa dipisahkan dari nama Habibie. Nama baru yang mewakili nama umat di level dunia. Beberapa pekan setelah lahirnya lembaga ICMI, dan Habibie sebagai nahkodanya, Natsir, segera berkirim surat kepada Habibie yang berisi tiga hal, yaitu: satu, ucapan selamat; dua, harapan supaya ICMI bermanfaat bagi umat; tiga, doa semoga ICMI mendapat ridlo Allah Swt. Surat itu dapat ditafsirkan sebagai penyerahan tongkat umat dari Natsir kepada Habibie.
Pun begitu juga Natsir mendapat penyerahan tongkat dari HOS Cokroaminoto. Pertemuan pertama Natsir dengan Tjokroaminoto terjadi secara kebetulan; pertemuan dapat diartikan sebagai estafet kepemimpinan umat. Dalam perjalanan Kereta Api anara Bandung – Jakarta. Natsir melihat seorang kakek tua membawa thermos. Ternyata sepuh tua itu Tjokroaminoto, yang pemikiranya kemudian dipakai oleh partai yang dipimpinnya, Masyumi.
Setelah tiga pilar ummat ini yang ketiganya sudah meninggalkan kita semua, sampai saat ini kita belum melihat atau menyaksikan lagi siapa kira-kira yang akan tampil menjadi tonggak sejarah ummat. Atau dari lembaga/ormas atau partai manakah tokoh yang menjadi tonggak sejarah umat ini akan lahir.
Orang besar itu lahir tidak instan. Perlu diuji dan diterpa cobaan-cobaan getir dalam kesehariannya. Bahkan secara waktu tidak tergesa-gesa.
Tahun 70-an dulu orang begitu berharap kepada sosok pengganti Natsir yaitu Nurchalis Majid. Cak Nur, panggilan akrabnya digadang-gadang sebagai Natsir muda karena pikiran briliannya serta wawasan pengetahuannya yang luas. Namun seiring waktu perjalanannya dianggap malah bertentangan dengan gagasan-gagasan Natsir.
Setelah itu warga muslim berharap kepada Amien Rais yang jadi lokomotif reformasi. Namun dalam langkah-langkahnya sampai saat ini dianggap tidak menunjukan sikap yang terpuji, malahan di Pertainya yang ia dirikan sendiri sering terjadi sikap yang mengundang cemoohan dan gunjingan kader. Bahkan sikapnya jauh dari mengayomi malah menunjukkan front dalam keberpihakanya kepada salah satu calon leader di Partainya. Kemudian orang banyak berharap kepada Yusril Ihza Mahendra karena selain pemikiranya yang moncer, Yusril juga sangat akrab dengan Natsir karena telah lama satu kantor menjadi pengurus dewan dakwah. Namun lagi-lagi harapan itu tidak bertepi karena kebanyakan sikap dan perilakunya jauh dari tokoh yang diguruinya, yaitu Natsir itu sendiri.
Kemudian muncul sosok anak muda yang kalem, cerdas dan punya moralitas yang tinggi, Anas Urbaningrum. Namun keburu terjebak dalam permainan politik praktis yang akhirnya jadi korban kepentingan kekuasaan dengan berakhir dijeruji Lembaga Pemasyarakatan.
Hingga tulisan ini muncul, penulis belum melihat siapa kira-kira yang akan jadi penerus tongkat kepemimpinan umat ini. Darimana akan lahir. Apakah dari partai. Dari organisasi kemasyarakatan keagamaan. Ormas keagamaanya dari NU, Muhammadiyah, PUI, Al-Irsyad, atau dari Persatuan Islam (Persis) sebagaimana Natsir lahir dan besar. Sesuatu yang patut dipikirkan umat Islam.
Terkhusus Persis. Segera dipikirkan bagaimana format/sistem kaderisasi Persis saat ini (terkhusus bidang siyasah/politik) supaya bisa melahirkan sosok yang bisa melahirkan kader unggul sekelas Natsir yang mampu mengimbangi pemikiran-pemikiran bahkan bisa mengungguli para schooling lain padahal dia tidak “mengenal bangku kuliah”. Natsir mampu melesat naik dari kader Persatuan Islam melahirkan Persatuan Indonesia dengan memunculkan gagasan yang bisa meleburkan negara-negara bagian buatan Van Mook sehingga melahirkan NKRI sampai saat ini.
Hal ini penting bahkan sudah masuk kategori kebutuhan bagi Persis supaya tidak terkesan terjadinya discontinuitas dari generasi Natsir ke generasi hari ini. Selain itu, supaya Persis bisa masuk kelevel nasional yang mampu berdampingan dengan ormas Islam lainya yang sudah jadi “langganan” dianggap ormas Islam terbesar di Indonesia. Untuk masuk naik level, Persis sangat punya modal itu. Selain modal sejarah keterlibatan para founding father Persis di percaturan pentas nasional, juga modal infrastruktur dan SDM juga sangat memungkinkan. Tinggal keberanian untuk memulai. Jangan titipkan himmah dan ghirah Persis kepada kader lain. Karena hanya kader Persislah yang hapal luar dalamnya keinginan, kebutuhan dan cita-cita itu.
Wallahu `alam.
![]() | Visitors | : | 1 Visitor | ||||
![]() | Hits | : | 1 hits | ||||
![]() | Month | : | Users | ||||
| Today | : | Users | ||||
![]() | Online | : | Users | ||||
Copyrights Β© 2026 Penerbit Persispers. All Rights Reserved