Penerbit Persispers

Alamat: Jl. Siti Munigar Gg.Hasan 2, Astanannyar, Kota Bandung . Telp. 085978006263


Pesan Buku

List Buku | Cari Judul Buku

SATU ABAD PERSATUAN ISLAM

Harga Rp. 95.000

SATU ABAD PERSATUAN ISLAM

MENCARI OTENTISITAS DAN ORISINALITAS PERSIS

Atip Latifulhayat

 

Ibarat manusia, menjelang usianya yang ke 100 Persis bukan saja telah matang dan dewasa, tapi mulai tampak lelah mengusung ide pembaruan Islam (mengembalikan pemahaman Islam kepada Al-qur’an dan As-Sunnah) dan bahkan sangat mungkin sudah didera penyakit tertentu. Pemikiran Persis sudah sangat berkembang dan bercabang, melahirkan berbagai tafsir dan cara pandang. Dalam keadaan tertentu orisinalitas (keaslian) pemikiran Persis sangat mungkin mulai dipertanyakan. Orisinalitas ide Persis ibarat anak panah yang lepas dari busurnya. Sekali dilepas, tidak pernah kembali. Ide pembaruan Persis telah melewati beberapa periode sejarah, menemukan beragam pengalaman dan tantangan. Menemukan kembali orisinalitas dan otentisitas Persis adalah suatu kemestian ketika jam’iyyah ini mulai tampak lelah menjalani tugas kesejarahannya.

Mencari dan menemukan kembali otentisitas Persis bukan berarti memutar jarum sejarah ke abad 19, menarik pulang perjalanan Persis ke tahun 1923. Yang dimaksud adalah menemukan kembali ruh (spirit) Persis. Adalah kekuatan ruh-nya yang menyebabkan Persis mampu berkiprah dan menjaga eksistensinya mendekati usia 100 tahun. Sebagai ilustrasi saya kutipkan perkataan Malik bin Nabi, intelektual asal Aljazair dalam tulisannya “Syuruuf al-Nahdloh”. Menurut Malik, sebuah peradaban akan terus menanjak naik ketika yang menjadi “panglima”-nya adalah ruh. Dengan ruh sebuah peradaban akan menjadi peradaban yang bersih dan tidak terkotori. Pada masa inilah peradaban akan dianggap mencapai puncak yang sebenarnya. Pada tahapan kedua, peradaban akan mengalami pelebaran dan pemekaran bukan pengembangan ketika yang menjadi pemaian utama dalam peradaban itu adalah akal. Peradaban yang dikendalikan akal akan mengalami tarik-menarik yang demikian kencang antara ruh dan hawa nafsu. Terjadinya tarik menarik ini akan mengakibatkan peradaban terus merentang dan bukan mengalami kenaikan nilai. Pada fase selanjutnya, sebuah peradaban akan mengalami kehancuran dan kebangkrutan ketika yang menjadi panutannya adalah hawa nafsu. Pada titik inilah peradaban akan dengan deras meluncur ke titik yang paling bawah.

 

Semua peradaban dunia mengalami pengalaman semacam itu. Dalam sejarah umat Islam, kita membaca bagaimana peradaban Islam bangkit dengan ruh dan akidah dan hancur dengan hawa nafsu. Dinasti Umawi, Abbasi, dan Mamluk merupakan contoh terbuka yang bisa dijadikan cermin lebar. Bagaimana mereka bangkit dengan semangat tauhid dan ruh dan hancur karena terperosok mengikuti hawa nafsu. Arnold Toynbee dalam masterpiece-nya A Study of History mengatakan bahwa kebangkrutan sebuah peradaban adalah diakibatkan oleh ketidakmampuan pelaku peradaban itu untuk merespon tantangan yang yang sedang berkembang. Challenge and Respon  التحدي والاستجابة) (adalah teori yang dikembangkan dengan sangat baik oleh Toynbee yang bisa diaplikasikan pada peradaban manapun. Ketika sebuah bangsa tidak mampu lagi memberi jawaban terhadap tantangan-tantangan yang berkembang dan tenggelam dalam kejumudan, maka bisa dipastikan peradaban itu akan mengalami pembusukan. Ketidakmampuan memberikan respon terhadap tantangan ini mengindikasikan adanya impotensi dan involusi dalam peradaban tersebut.

Will Durant dan Ariel Durant dalam tulisannya The Lesson of History mengatakan bahwa kebangkitan sebuah peradaban atau bangsa sangat tergantung pada ada atau tidaknya inisiatif individu-individu dan pikiran-pikiran  kreatif mereka yang bisa mengembangkan energi positif  dalam merespon secara efektif terhadap situasi baru yang sedang berkembang. Ketidakhadiran sosok-sosok kreatif dan potensi inti akan mengakibatkan kehancuran sebuah bangsa dan peradaban.

Untuk menemukan ruh Persis, pencarian bisa dilakukan antara lain lewat pemahaman latar belakang mengapa Persis didirikan, kehidupan sosial keagamaan pada saat itu, latar belakang dan pemikiran para pendirinya dan juga pemikiran para tokoh kuncinya. Lewat perenungan, kegelisahan dan kritisisme Moh. Zamzam dan Moh. Yunus, pedagang asal palembang yang berjiwa ulama,  Persis lahir. Proklamasi Persis adalah: “Kembali kepada Islam menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Kejumudan umat dalam memahami dan mempraktekkan Islam merupakan faktor utama yang mendorong lahirnya Persis. Adalah Ahmad Hassan, seorang Ulama zuhud yang luas ilmu dan wawasan ke-Islamannya yang mengemas proklamasi Persis menjadi gerakan (harakah) pemurnian aqidah dan ibadah yang militan, berwibawa, dan konsisten. Lewat kekuatan dan kelengkapan hujjah, Persis memecah kejumudan umat. Persis hadir dengan misi pencerahan umat. Kosa kata harakah yang sarat makna pencerahan dan perubahan dipasarkan kepada umat secara berani dan argumentatif, misalnya terma ijtihad dan ittiba’ sebagai koreksi atas perilaku taklid dan fanatik madzhab.

Persis pun menginventarisir sekaligus mengoreksi sejumlah pemahaman dan praktek keagamaan yang telah mapan dimasyarakat, namun dianggap keliru dan bahkan menyimpang karena tidak didasarkan atas  nash Al-qur’an dan Hadits yang shahih. Persis bergerak lincah menyibak (trail blazer) belantara tahayul, bid’ah dan khurafat. Yang penting untuk dicatat, semuanya dilakukan dalam bingkai jam’iyyah (organisasi). Para Pendiri Persis memahami benar bahwa dakwah adalah amal jama’i (kolektif). Dengan alasan itu pula para tokoh tersebut mendirikan Persis.

Dua hal paling tidak kita temukan mengapa Persis bertahan sampai saat ini. Pertama, karena Persis tetap bertahan dan dipertahankan sebagai jam’iyyah. Persis bergerak atas dasar nidzom (sistem) yang telah disepakati, bukan atas dasar nalar dan selera individual. Oleh karenanya dapat dipahami mengapa usia Persis jauh melampau usia para pendirinya. Nama besar A. Hassan tidak mengecilkan dan menihilkan Persis. Persis menjadi besar karena nama besar A. Hassan dan begitu juga reputasi A. Hassan mendapat pengakuan luas setelah bergabung dengan Persis.

           

Kedua, karena Persis masih memiliki ruh sebagai harakah dakwah, yaitu semangat untuk mencari, mengikuti, dan menyampaikan kebenaran (Al-haq).  Kalau dijabarkan lebih lanjut ruh Persis itu berbentuk: semangat untuk melakukan penelitian dan observasi (mutholaah), kritis dan tekun dalam mengungkap masalah, mengedepankan amal jamai dan bekerja dalam sistem, ikhlas dalam beramal dan menjauhkan diri dari sifat ananiyah, tegas dan berani dalam menegakkan dan menyampaikan kebenaran, berani untuk melakukan koreksi dan terbuka untuk dikoreksi.

 

Meminjam ungkapan pengamat ke-Islaman dan Kenegaraan Dr. Yudi Latief, berbeda dengan beberapa gerakan pemikiran ke-Islaman yang muncul belakangan yang didesain hanya sebagai fashion (mode pakaian) yang eksistensinya di sesuaikan dan harus tunduk kepada tujuan tertentu yang bersifat jangka pendek, Persis adalah organisasi Islam yang mampu menjaga stamina gerakan. Menjaga eksistensi gerakan Islam adalah persoalan pengalaman dan kemampuan menjaga stamina.

           

Paling tidak ada empat karakteristik Persis yang hilang atau sebagian hilang, terlupakan atau mungkin dilupakan oleh para pelanjutnya. Pertama, Persis adalah gerakan dakwah dan pembaharuan pemikiran ke-Islaman yang mengajarkan dan menyebarkan sikap kritis dan korektif dalam menyikapi, mamahami dan mengamalkan ajaran Islam. Dalam konteks ini maka dapat dipahami apabila diskusi, dialog atau bahkan debat merupakan bagian dari upaya Persis mencerahkan umat dalam memahami ajaran agamanya. Riset dan investigasi hujjah dalam rangka pencarian kebenaran yang lebih meyakinkan merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah gerakan Persis.          

            Dengan wajah dan wijhah seperti ini Persis berkepentingan untuk menempatkan rasionalitas berpikir pada posisi yang terhormat tanpa harus terjebak pada rasionalisme. Oleh karenanya dapat dipahami, meskipun Persis sangat setia terhadap nash tidak menjadikan Persis terjebak menjadi gerakan yang radikal. Tidak aneh kalau M. Natsir, tokoh intelektual Persis par excellent menganjurkan agar siswa/santri setingkat Aliyah/Muallimien untuk juga membaca misalnya karya Goethe atau Immanuel Kant. Persis pun akhirnya memiliki kemampuan menerapkan mekanisme koreksi diri (self-correcting) yang memadai.

           

Namun, saat ini sosok Persis tampaknya lebih merupakan gerakan sosial keagamaan yang tenggelam dalam rutinitas dakwah (yang kemasannya cenderung konservatif). Kesetiaan kepada nash tidak dibarengi dengan pengelolaan rasionalitas yang handal dan proporsional. Mekanisme koreksi diri mulai tumpul dan apologi tampaknya mulai digandrungi. Akibatnya, Persis mulai terpinggirkan dalam lingkaran gerakan pemikiran. Sosoknya sebagai gerakan pembaruan tampaknya hanya tinggal klaim internal. Sementara persepsi eksternal justru mulai mempertanyakan kiprah Persis sebagai gerakan pembaru.

           

Kedua, Persis memiliki agenda reformasi dakwah dan pemikiran yang meyakinkan, yaitu pemurnian (purifikasi) pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Generasi pertama Persis melaksanakan agenda ini lewat pemberantasan TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat). Gerakan pemurnian aqidah dan ibadah ini memiliki daya kejut tinggi karena Persis melakukannya dengan cukup tegas dan konsisten. Dengan berbagai kontroversi yang menyertainya, agenda Persis ini cukup sukses paling tidak memberikan penjelasan kepada umat apa itu tahayul, churafat dan bid’ah yang mungkin selama ini mereka belum menyadari dan memahaminya. Sebetulnya agenda purifikasi Persis tidak terbatas dan dibatasi dalam urusan ritual tertentu saja (ibadah mahdloh). Agenda purifikasinya menyeluruh. Namun sayang, generasi berikutnya tampaknya kurang berhasil menangkap esensi agenda purifikasi ini dan terjebak pada aksentuasinya. Akibatnya agenda purifikasi tersebut terkesan hambar dan datar alias jalan ditempat. Hanya aksentuasi agenda purifikasi masa lalu.

           

Seharusnya agenda tersebut diperluas ke wilayah muamalah contohnya dalam bidang ekonomi (iqtishadiyyah). Sangat disayangkan agenda ini sudah digarap yang lain lewat konsep dan pembangunan sistem ekonomi syariah yang dimulai dari sektor moneter dengan memperkenalkan bank tanpa bunga. Spirit purifikasi harus didaur ulang dan agendanya diperluas yang menjangkau aspek kemasyarakatan yang faktual – yang dibutuhkan oleh umat dan bangsa. Persis harus menghadirkan esensi dan spektrum syariah Islam secara elegan sehingga mampu memberikan jalan keluar dari kerumitan pengaturan lingkungan hidup, krisis energi, krisis pangan, pengentasan kemiskinan, dan lain sebagainya.

           

Ketiga, Persis adalah ormas Islam yang sejak pendiriannya terbuka terhadap ide-ide kemajuan dan pemajuan umat Islam. Persis tidak identik dengan salah satu etnis misalnya Sunda atau karena kelekatan geografis. Siapa saja yang berkehendak untuk memajukan umat Islam dan sepakat dengan ide dasar yang diusung oleh Persis silakan bergabung. Pendiri Persis bukan orang Sunda dari Tasik atau Garut, melainkan pedagang asal Palembang yang berjiwa ulama, yaitu Moh. Zamzam dan Moh. Yunus. Meskipun demikian pendiri Persis tersebut tidak pernah tercatat menduduki posisi sebagai Ketua Umum Persis. Yang jelas, tiga tahun setelah berdiri tepatnya pada tahun 1926 para pendiri Persis tersebut mempercayakan pengembangan gerakan pembaharu ini kepada A. Hassan seorang mujaddid dan mujtahid berdarah Tamil, seorang pribadi zuhud yang tidak memiliki kaitan etnik dengan bumi Parahyangan. Lewat pesona ketokohan dan keulamaan A. Hassan bergabunglah para kader muda berbakat seperti M. Natsir, Isa Anshari, M. Rusyad Nurdin yang berasal dari Minangkabau, E. Abdurrahman, E. Abdullah, I. Sudibja dari tatar Sunda. Di tangan merekalah kemudian Persis berkembang menyemai amal dan pemikiran di bumi Nusantara.

            Namun entah apa sebabnya heterogenitas etnik, latar belakang dan peminatan yang merupakan warisan kesejarahan Persis berubah menjadi lebih homogen baik etnik, latar belakang maupun peminatan. Gerak dan dinamika jamiyyah pun relatif kurang lincah, agak lamban dan kurang greget. Sehingga ada yang berseloroh bahwa Persis itu tidak lain adalah Persatuan Islam Sunda.

Keempat, Persis tetap bertahan dan dipertahankan sebagai gerakan dakwah dan atas dasar itulah Persis tetap eksis sampai saat ini. Peris tidak pernah diubah misalnya menjadi Partai Politik. Proposal kearah itu sempat digulirkan pada Muktamar tahun 1960 di Bangil, tapi kemudian ditolak secara aklamasi oleh Muktamar.

            Nama besar A. Hassan dan M. Natsir misalnya tidak mengecilkan dan menihilkan Persis. Persis menjadi besar karena nama besar A. Hassan dan begitu juga reputasi A.  Hassan mendapat pengakuan luas setelah bergabung dengan Persis. Selanjutnya, Persis tetap eksis karena Persis masih memiliki ruh sebagai harakah dakwah, yaitu semangat untuk mencari, mengikuti, dan menyampaikan kebenaran (Al-haq). 

           

Para pendiri dan pendahulu Persis sudah menyelesaikan tugas kesejarahannya. Mereka telah tuntas berkiprah, khatam beramal - mengisi lembar dan dinamika zaman. Kelebihan yang terwariskan tertanam kokoh menjadi investasi perjuangan. Kekurangan yang mungkin ada menjadi modal dan tanggung jawab  bagi para pewaris perjuangan Persis untuk memetakan dan merumuskan masa depan Persis. Masa depan Persis bukanlah misteri dan bayangan ghaib yang berisi ruang keyakinan semata. Masa depan Persis adalah ruang kosong sejarah yang menunggu untuk disinggahi dan dipenuhi kiprah para pewaris Persis. Masa depan Persis adalah zona dimana para pewaris Persis terpanggil untuk membuat sejarah.

            Persis harus memiliki optimisme dalam menatap masa depan, karena Persis memiliki modal sejarah yang cukup penting. Paling tidak ada tiga modal sejarah yang dimilikinya yaitu, sebagai gerakan pemikiran, gerakan pembaharuan (harakah tajdid), dan agen pembangun sumberdaya insani (organisasi kader). Tanpa harus menutupi kekurangan yang dimilikinya, Persis telah memberikan kontribusi besar dalam pembangunan umat dan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan dan dakwah. Tanpa pernah meminta modal dan anggaran dari negara, apalagi menyusahkan negara, Persis dengan ikhlas dan sabar terus berkiprah. Ratusan Pesantren dan lembaga pendidikan lainnya telah dibangun dan dikembangkan. Dan tentu saja, pemikiran ke-Islaman yang dikembangkan Persis telah menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari perjalanan sejarah umat Islam Indonesia. Persis adalah salah satu Ormas Islam arus utama (mainstream) disamping NU dan Muhammadiyyah.

            Tidak cukup hanya dengan modal sejarah. Persis pun harus jujur dan berani mengoreksi diri. Potret Persis saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan akar kesejarahan yang dimilikinya. Saat ini sosok Persis lebih merupakan gerakan sosial keagamaan yang tenggelam dalam rutinitas dakwah (yang kemasannya cenderung konservatif). Persis mulai terpinggirkan dalam lingkaran gerakan pemikiran. Sosoknya sebagai gerakan pembaharuan tampaknya hanya merupakan klaim internal. Sementara persepsi eksternal justru mulai mempertanyakan kiprah Persis sebagai gerakan pembaharu. Tak kalah pentingnya, Persis saat ini tampaknya masih belum fokus dalam persoalan kaderisasi (dalam arti luas), baik keilmuan, gerakan dan pemikiran.

            Masa depan Persis juga ditentukan oleh tingkat kritisisme Persis menginvestigasi dan menganalisis tantangan yang dihadapinya. Paling tidak ada tujuh tantangan yang dihadapi Persis sekarang dan kedepan yaitu: (1) ekspansi dan dinamika organisasi Islam, (2) dinamika pemikiran ke-Islaman, (3) globalisasi dan transnasionalisasi pemikiran ke Islaman, (4) privatisasi dakwah dan pendidikan Islam, (5) stigmatisasi Islam sebagai ajaran yang ramah terhadap kekerasan, (6) pencitraan Persis yang keras dan ekslusif, (7)  problem kuantitas (mungkin juga kualitas) anggota Persis. Menyikapi ketujuh tantangan tersebut, Persis harus menyiapkan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mempertegas dan memperjelas misi dan visi dakwah Persis, (2) mempersiapkan kader yang handal keilmuannya, ikhlas dalam beramal dan militan dalam bergerak, (3) memodernisasi struktur organisasi, (4) memperluas jaringan baik di tingkat nasional maupun internasional, (5) memperluas cakupan dan keragaman program, dan (6) mengevaluasi pencitraan/persepsi eksternal tentang Persis.

Apakah Persis punya masa depan? Dengan menoleh sejenak kebelakang tampaknya Persis memiliki modal cukup untuk berbicara dan berkiprah dimasa depan. Dengan menoleh sedikit ke kanan dan ke kiri Persis pun telah menyadari realita adanya sejumlah tantangan. Dengan sedikit merenung dan mengaca diri, Persis pun sadar akan kekurangan yang dimilikinya. Itu semua adalah modal, peluang dan tantangan untuk menatap masa depan.

            Jadi kira-kira bagaimana sosok Persis masa depan? Mari kita buat singkat agar gampang untuk dingat, meskipun belum tentu gampang untuk diperbuat. Dua Ormas Islam yang lahir sejaman, NU dan Muhammadiyah masih tetap mampu menampilkan dirinya sebagai Ormas Islam arus utama dan senantiasa dianggap dan menganggap dirinya sebagai wakil umat Islam Indonesia baik dari sisi pemikiran maupun postur organisasi. Namun ternyata kehadiran dua ormas Islam ini belum dianggap cukup mampu menjawab problem dan tantangan yang dihadapi umat Islam Indonesia. Kalau begitu, beranikah Persis, atau mampukah dan maukah Persis ke depan (bisa 5 tahun atau 10 tahun) menjadikan dirinya sebagai kekuatan dakwah ketiga (bukan nomor tiga) bersama-sama dengan NU dan Muhammadiyah. Wallahu’alam

Kembali |

Pesan Sekarang




Headline News

Kalender Harian

    « Jan 2026 »
    Minggu
    Senin
    Selasa
    Rabu
    Kamis
    Jumat
    Sabtu
    28 29 30 31 1 2 3
    4 5 6 7 8 9 10
    11 12 13 14 15 16 17
    18 19 20 21 22 23 24
    25 26 27 28 29 30 31
    1 2 3 4 5 6 7

Statistik Website

    Visitors :1 Visitor
    Hits :1 hits
    Month : Users
    Today : Users
    Online : Users

Copyrights © 2026 Penerbit Persispers. All Rights Reserved